Kamis, 11 Desember 2014

SUKSES BELAJAR DITENTUKAN OLEH GAYA BELAJAR KITA


   Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju namun masih banyak kalangan yang masih menggunakan praktik pendidikan tradisional yang banyak menekankan pembelajaran dengan penyampaian formal. Misalnya siswa disuruh duduk tenang dan mendengarkan guru mereka berbicara selama berjam-jam. Pernahkah terpikirkan dalam benak kita jika ada sebagian siswa yang tidak bisa menerima atau bahkan malah stress dengan cara pembelajaran yang seperti itu? Pembelajaran yang baik adalah bagaimana cara membuat siswa itu belajar dengan nyaman dan tanpa paksaan. Sehingga informasi yang mereka peroleh dapat diterima.

   Ada sebuah studi kasus. Ada seorang anak yang mengalami “learning disable” (kesulitan belajar). Anak ini sebenarnya cerdas, namun orang tuanya selalu mendesak untuk dia belajar. Kemudian orang tuanya meminta bantuan pada seseorang untuk mengatasi kesulitan belajar anaknya. Orang yang diminta bantuan itu mewawancarai anak yang kesulitan belajar. Pada waktu diwawancarai anak tersebut dengan air mata berlinang menceritakan penyiksaan yang dialaminya hampir setiap malam.
“Jika malam aku disuruh orang tuaku untuk masuk kamar, duduk di kursi depan meja belajar, tidak ada televisi dan tidak ada radio, hanya suara kesunyian malam yang didengar, makanan dan minuman juga harus disingkirkan sampai selesai belajar. Dengan seperti itu aku mendapat nilai 78-82 namun orang tuaku belum puas dengan nilai yang aku dapatkan dan menyuruhku belajar lebih keras lagi.”
Demikian lah anak tersebut menceritakan kejadian yang dialaminya. Kemudian orang yang diminta bantuan itu membuat pilihan atau prefeferensi tentang gaya belajar seperti apa yang dia mau yang sesuai dengan dirinya. Orang itu berjanji akan menyampaikan hal ini pada kedua orang tuanya. Kemudian meminta kedua orang tua untuk mengubah gaya belajar anaknya. Anak tersebut belajar di lantai depan televisi bersama-sama keluarga mengemil atau minum sesuatu, mendengarkan pembicaraan canda gurau keluarga. Sesuai dengan keinginan anak itu belajar sambil merasakan keberadaan keluarga. Pola belajar seperti ini akan dicoba selama satu semester.

   Memang cukup sulit meyakinkan kedua orang tua anak malang itu untuk menerapkan pola belajar seperti ini karena mereka terbiasa membelajarkan anak dengan pola belajar yang dulu. Namun pada akhirnya kedua orang tuanya setuju untuk mengubah polo belajar anaknya yang mengalami kesulitan belajar itu. Enam bulan kemudian akhirnya terbukti anak tersebut mendapat nilai rata-rata Sembilan puluhan dan anak tersebut selalu tersenyum tanpa ada kesedihan yang pernah dia alami pada semester-semester sebelumnya.

  Dari studi kasus di atas kita dapat melihat bahwa anak tersebut mengalami kesulitan belajar dikarenakan gaya belajar yang kurang sesuai dengannya. Tidak semua anak dapat menerima gaya belajar yang sama duduk di kursi, dengan lampu belajar yang terang, tidak ada suara, tidak ada makanan. Dengan gaya belajar seperti ini malah akan membuat anak bosan dan frustasi dan parahnya menganggap kalau belajar adalah sesuatu yang menyedihkan atau bahkan sebuah penyiksaan. Pastilah kita tidak mau anak-anak kehilangan semangat belajarnya. Jangan sampai kita biarkan spesies pelajar punah hanya karena pendidik dan orang tua tidak bisa mengerti bagaimana gaya belajar anak, dalam kondisi bagaimana anak dapat memperoleh dan mencerna informasi. Marilah kita bersama-sama mempelajari dan memahami perbedaan gaya belajar masing – masing individu. Menyadari bahwa keragaman dalah kekuatan kita dan menghargai individualitas.

   Apa itu gaya belajar? Menurut Dr. Rita dan Dr. Kenneth Dunn “gaya belajar adalah cara manusia mulai berkonsentrasi, menyerap, memproses, dan menampung informasi yang baru dan sulit. Gaya belajar tiap-tiap individu berbeda atau ada yang mirip pada saat yang sama. Gaya belajar ternyata kebanyakan bersifat bawaan." Seperti penelitian yang dilakukan sejak 1979 mengungkapkan “bahwa tiga-perlima gaya belajar bersifat genetis; sisanya, di luar ketekunan, bisa dikembangkan melalui pengalaman.”

   Untuk dapat mengenal gaya belajar orang lain kita perlu mengenal diri kita sendiri. Mengenal diri sendiri sangatlah penting untuk mengetahui apa yang mendorong perilaku dan pikiran mereka., mengapa mereka melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Hanya dengan mengenal diri sendiri kita lebih mudah untuk memehami orang lain. Dengan kita dapat memahami orang lain lebih mudah untuk memahami gaya belajar yang ada pada masing-masing individu. Sehingga, dengan menerapkan gaya belajar yang sesuai dengan keinginan individu proses belajar menjadi lebih menyenangkan sehingga tidak menimbulkan kebosanan atau keengganan untuk belajar. Pembelajaran  menjadi lebih mudah apabila memakai gaya belajar yang sesuai dengan dirinya

. Sebisa mungkin kita meninggalkan metode pembelajaran lama yang masih mengalah pada kepercayaan-kepercayaan keliru seperti:
1. Cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dengan duduk tegak di depan meja.

   Penelitian telah membuktikan bahwa 75% berat badan pada saat duduk ditopang oleh tulang yang hanya sepuluh sentimeter saja. Akibatnya, duduk menjadi tidak nyaman dan menyebabkan ingin sering bergerak. Ini menyebabkan anak sering jalan-jalan atau rame di kelas, haruslah guru memaklumi dan sebisa mungkin dapat mengakali dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran agar anak tidak dduk terus-menerus selama beberapa jam.

2. Cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dalam ruangan dengan pencahayaan yang terang karena pencahayaan yang redup akan merusak mata ketika membaca dan bekerja.

   Penelitian membuktikan bahwa banyak siswa yang belajar lebih baik dalam ruangan dengan pencahayaan redup, sedangkan pada ruangan dengan pencahayaan terang membuat mereka merasa gelisah, cemas, dan hiperaktif. Pencahayaan yang redup memberikan ketenangan pada banyak siswa karena mereka merasa lebih santai sehingga dapat berpikir lebih jernih.

3. Siswa belajar lebih banyak dan menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam lingkungan yang benar-benar sunyi.

   Penelitian mangungkapkan bahwa banyak orang dewasa mampu berpikir dan mengingat paling baik dengan mendengarkan musik dan beberapa penelitian di Selandia Baru menunjukan bahwa sekitar 40% siswa lebih menyukai lingkungan yang memperdengarkan suara music dan kebisingan saat belajar dan mereka tidak bisa berkonsentrasi apabila suasananya sunyi. Tapi, memang ada jug siswa yang lebih menyukai belajar dalam suasana sunyi.

4. Siswa paling mudah mempelajari subjek yang sulit pada awal pagi ketika mereka dalam kondisi paling waspada.

Penelitian menunjukan bahwa tidak semua orang bisa berkonsentrasi dengan baik pada pagi hari. Apabila siswa dibiarkan belajar pada waktu-waktu yang paling tepat bagi mereka, maka siap, motivasi, dan nilai mereka akan membaik.

5. Siswa yang tidak bisa duduk tenang berarti belum siap belajar atau tidak bisa belajar dengan cara yang benar.

   Kebanyakan siswa yang terlibat secara aktif dalam proses belajar cenderung belajar lebih banyak, memerhatikan dengan cermat dan memperoleh nilai tes yang lebih tinggi dibandingkan apabila mereka harus duduk dan mendengarkan.

6. Tidak diiperbolehkan makan dan minum di ruang kelas.

   Banyak siswa yang bisa berkonsentrasi dengan lebih baik ketika belajar sambil makan, mengunyah, minum dll. Coba kita bayangkan apabila kita dalam kondisi lapar dan haus pasti susah untuk berkonsentrasi, cenderung lebih membayangkan makanan atau minuman. Hal ini terbukti dalam sebuah penelitian bahwa siswa yang membutuhkan makanan dan dibiarkan makan ketika mengikuti tes, mendapat nilai yang jauh lebih tiinggi daripada mereka yang menginginkan makan tapi dilarang.
Para pendidik yang masih menggunakan metode pengajaran seperti di atas secara tidak langsung telah melakukan penyiksaan pada beberapa siswa yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan pengajaran guru. Semua itu siswa tidak sama. Ada yang dapat dapat belajar dengan menggunakan pencahayaan terang ada juga yang belajar dengan pencahayaan lebih redup. Itu adalah beberapa dari sekian perbedaan siswa dalam gaya belajarnya. Pendidik dan juga orang tua agar dapat sukses membelajarkan anak haruslah mengerti dan dapat memahami perbedaan gaya belajar anak. Karena dalam belajar peserta didik ada yang dominan menggunakan otak kiri ada juga yang dominan menggunakan otak kanan. Namun dalam praktik pendidikan tradisional yang kini kebenyakan masih banyak dianut, sangat menekankan menggunakan metode pengajaran otak kiri , bahasa serta penyampaiannya yang formal sehingga tidak memberikan ruang pada bagi pelajar untuk mengembangkan keterampilan belajar dan kemampuan belajar. Penelitian terhadap model gaya belajar dari Dunn dan Dunn telah membuktikan bahwa tipe orang yang memproses dengan otak kiri lebih menyukai lingkungan belajar yang: sunyi, pencahayaan terang, dan dirancang secara formal. Mereka tidak memerlukan makanan cemilan, dan bisa belajar atau bekerja dengan kondisi terbaik saat sendiri atau dengan kehadiran figure yang berwenang. Sebaliknya kebanyakan tipe orang yang memproses dengan otak kanan lebih menyukai: kebisingan atau musik, pencahayaan redup, rancangan informal, makanan cemilan, mobilitas dan interaksi dengan rekan lain di tempat kerja atau selama belajar atau ketika sedang berkonsentrasi.

   Setelah kita mengetahui perbedaan anak dalam memproses informasi yaitu dengan otak kiri maupun kanan sebagai pendidik dan orang tua haruslah kita memenuhi metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Buat lah tempat belajar senyaman mungkin bagi anak sesuai dengan kemauan mereka. Jadikan lah sekolah sebagai surga bagi tempat belajar mereka jangan lah sekolah di jadikan penjara bagi tempat belajar anak. Sehingga guru maupun peserta didik sama-sama merasa senang dan masing-masing tidak ada yang terbebani karena perbedaan kebutuhan mereka terpenuhi.




  Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju namun masih banyak kalangan yang masih menggunakan praktik pendidikan tradisional yang banyak menekankan pembelajaran dengan penyampaian formal. Misalnya siswa disuruh duduk tenang dan mendengarkan guru mereka berbicara selama berjam-jam. Pernahkah terpikirkan dalam benak kita jika ada sebagian siswa yang tidak bisa menerima atau bahkan malah stress dengan cara pembelajaran yang seperti itu? Pembelajaran yang baik adalah bagaimana cara membuat siswa itu belajar dengan nyaman dan tanpa paksaan. Sehingga informasi yang mereka peroleh dapat diterima.


   Ada sebuah studi kasus. Ada seorang anak yang mengalami “learning disable” (kesulitan belajar). Anak ini sebenarnya cerdas, namun orang tuanya selalu mendesak untuk dia belajar. Kemudian orang tuanya meminta bantuan pada seseorang untuk mengatasi kesulitan belajar anaknya. Orang yang diminta bantuan itu mewawancarai anak yang kesulitan belajar. Pada waktu diwawancarai anak tersebut dengan air mata berlinang menceritakan penyiksaan yang dialaminya hampir setiap malam.

   “Jika malam aku disuruh orang tuaku untuk masuk kamar, duduk di kursi depan meja belajar, tidak ada televisi dan tidak ada radio, hanya suara kesunyian malam yang didengar, makanan dan minuman juga harus disingkirkan sampai selesai belajar. Dengan seperti itu aku mendapat nilai 78-82 namun orang tuaku belum puas dengan nilai yang aku dapatkan dan menyuruhku belajar lebih keras lagi.”

   Demikian lah anak tersebut menceritakan kejadian yang dialaminya. Kemudian orang yang diminta bantuan itu membuat pilihan atau prefeferensi tentang gaya belajar seperti apa yang dia mau yang sesuai dengan dirinya. Orang itu berjanji akan menyampaikan hal ini pada kedua orang tuanya. Kemudian meminta kedua orang tua untuk mengubah gaya belajar anaknya. Anak tersebut belajar di lantai depan televisi bersama-sama keluarga mengemil atau minum sesuatu, mendengarkan pembicaraan canda gurau keluarga. Sesuai dengan keinginan anak itu belajar sambil merasakan keberadaan keluarga. Pola belajar seperti ini akan dicoba selama satu semester.

   Memang cukup sulit meyakinkan kedua orang tua anak malang itu untuk menerapkan pola belajar seperti ini karena mereka terbiasa membelajarkan anak dengan pola belajar yang dulu. Namun pada akhirnya kedua orang tuanya setuju untuk mengubah polo belajar anaknya yang mengalami kesulitan belajar itu. Enam bulan kemudian akhirnya terbukti anak tersebut mendapat nilai rata-rata Sembilan puluhan dan anak tersebut selalu tersenyum tanpa ada kesedihan yang pernah dia alami pada semester-semester sebelumnya.

   Dari studi kasus di atas kita dapat melihat bahwa anak tersebut mengalami kesulitan belajar dikarenakan gaya belajar yang kurang sesuai dengannya. Tidak semua anak dapat menerima gaya belajar yang sama duduk di kursi, dengan lampu belajar yang terang, tidak ada suara, tidak ada makanan. Dengan gaya belajar seperti ini malah akan membuat anak bosan dan frustasi dan parahnya menganggap kalau belajar adalah sesuatu yang menyedihkan atau bahkan sebuah penyiksaan. Pastilah kita tidak mau anak-anak kehilangan semangat belajarnya. Jangan sampai kita biarkan spesies pelajar punah hanya karena pendidik dan orang tua tidak bisa mengerti bagaimana gaya belajar anak, dalam kondisi bagaimana anak dapat memperoleh dan mencerna informasi. Marilah kita bersama-sama mempelajari dan memahami perbedaan gaya belajar masing – masing individu. Menyadari bahwa keragaman dalah kekuatan kita dan menghargai individualitas.

   Apa itu gaya belajar? Menurut Dr. Rita dan Dr. Kenneth Dunn “gaya belajar adalah cara manusia mulai berkonsentrasi, menyerap, memproses, dan menampung informasi yang baru dan sulit. Gaya belajar tiap-tiap individu berbeda atau ada yang mirip pada saat yang sama. Gaya belajar ternyata kebanyakan bersifat bawaan." Seperti penelitian yang dilakukan sejak 1979 mengungkapkan “bahwa tiga-perlima gaya belajar bersifat genetis; sisanya, di luar ketekunan, bisa dikembangkan melalui pengalaman.”

   Untuk dapat mengenal gaya belajar orang lain kita perlu mengenal diri kita sendiri. Mengenal diri sendiri sangatlah penting untuk mengetahui apa yang mendorong perilaku dan pikiran mereka., mengapa mereka melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Hanya dengan mengenal diri sendiri kita lebih mudah untuk memehami orang lain. Dengan kita dapat memahami orang lain lebih mudah untuk memahami gaya belajar yang ada pada masing-masing individu. Sehingga, dengan menerapkan gaya belajar yang sesuai dengan keinginan individu proses belajar menjadi lebih menyenangkan sehingga tidak menimbulkan kebosanan atau keengganan untuk belajar. Pembelajaran  menjadi lebih mudah apabila memakai gaya belajar yang sesuai dengan dirinya. Sebisa mungkin kita meninggalkan metode pembelajaran lama yang masih mengalah pada kepercayaan-kepercayaan keliru seperti:

1. Cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dengan duduk tegak di depan meja.

   Penelitian telah membuktikan bahwa 75% berat badan pada saat duduk ditopang oleh tulang yang hanya sepuluh sentimeter saja. Akibatnya, duduk menjadi tidak nyaman dan menyebabkan ingin sering bergerak. Ini menyebabkan anak sering jalan-jalan atau rame di kelas, haruslah guru memaklumi dan sebisa mungkin dapat mengakali dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran agar anak tidak dduk terus-menerus selama beberapa jam.


2. Cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dalam ruangan dengan pencahayaan yang terang karena pencahayaan yang redup akan merusak mata ketika membaca dan bekerja.

   Penelitian membuktikan bahwa banyak siswa yang belajar lebih baik dalam ruangan dengan pencahayaan redup, sedangkan pada ruangan dengan pencahayaan terang membuat mereka merasa gelisah, cemas, dan hiperaktif. Pencahayaan yang redup memberikan ketenangan pada banyak siswa karena mereka merasa lebih santai sehingga dapat berpikir lebih jernih.




3. Siswa belajar lebih banyak dan menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam lingkungan yang benar-benar sunyi.

   Penelitian mangungkapkan bahwa banyak orang dewasa mampu berpikir dan mengingat paling baik dengan mendengarkan musik dan beberapa penelitian di Selandia Baru menunjukan bahwa sekitar 40% siswa lebih menyukai lingkungan yang memperdengarkan suara music dan kebisingan saat belajar dan mereka tidak bisa berkonsentrasi apabila suasananya sunyi. Tapi, memang ada jug siswa yang lebih menyukai belajar dalam suasana sunyi.


4. Siswa paling mudah mempelajari subjek yang sulit pada awal pagi ketika mereka dalam kondisi paling waspada.

   Penelitian menunjukan bahwa tidak semua orang bisa berkonsentrasi dengan baik pada pagi hari. Apabila siswa dibiarkan belajar pada waktu-waktu yang paling tepat bagi mereka, maka siap, motivasi, dan nilai mereka akan membaik.

5. Siswa yang tidak bisa duduk tenang berarti belum siap belajar atau tidak bisa belajar dengan cara yang benar.

   Kebanyakan siswa yang terlibat secara aktif dalam proses belajar cenderung belajar lebih banyak, memerhatikan dengan cermat dan memperoleh nilai tes yang lebih tinggi dibandingkan apabila mereka harus duduk dan mendengarkan.

6. Tidak diiperbolehkan makan dan minum di ruang kelas.

   Banyak siswa yang bisa berkonsentrasi dengan lebih baik ketika belajar sambil makan, mengunyah, minum dll. Coba kita bayangkan apabila kita dalam kondisi lapar dan haus pasti susah untuk berkonsentrasi, cenderung lebih membayangkan makanan atau minuman. Hal ini terbukti dalam sebuah penelitian bahwa siswa yang membutuhkan makanan dan dibiarkan makan ketika mengikuti tes, mendapat nilai yang jauh lebih tiinggi daripada mereka yang menginginkan makan tapi dilarang.

   Para pendidik yang masih menggunakan metode pengajaran seperti di atas secara tidak langsung telah melakukan penyiksaan pada beberapa siswa yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan pengajaran guru. Semua itu siswa tidak sama. Ada yang dapat dapat belajar dengan menggunakan pencahayaan terang ada juga yang belajar dengan pencahayaan lebih redup. Itu adalah beberapa dari sekian perbedaan siswa dalam gaya belajarnya. Pendidik dan juga orang tua agar dapat sukses membelajarkan anak haruslah mengerti dan dapat memahami perbedaan gayabelajar anak. Karena dalam belajar peserta didik ada yang dominan menggunakan otak kiri ada juga yang dominan menggunakan otak kanan. Namun dalam praktik pendidikan tradisional yang kini kebenyakan masih banyak dianut, sangat menekankan menggunakan metode pengajaran otak kiri , bahasa serta penyampaiannya yang formal sehingga tidak memberikan ruang pada bagi pelajar untuk mengembangkan keterampilan belajar dan kemampuan belajar. Penelitian terhadap model gaya belajar dari Dunn dan Dunn telah membuktikan bahwa tipe orang yang memproses dengan otak kiri lebih menyukai lingkungan belajar yang: sunyi, pencahayaan terang, dan dirancang secara formal. Mereka tidak memerlukan makanan cemilan, dan bisa belajar atau bekerja dengan kondisi terbaik saat sendiri atau dengan kehadiran figure yang berwenang. Sebaliknya kebanyakan tipe orang yang memproses dengan otak kanan lebih menyukai: kebisingan atau musik, pencahayaan redup, rancangan informal, makanan cemilan, mobilitas dan interaksi dengan rekan lain di tempat kerja atau selama belajar atau ketika sedang berkonsentrasi.
   Setelah kita mengetahui perbedaan anak dalam memproses informasi yaitu dengan otak kiri maupun kanan sebagai pendidik dan orang tua haruslah kita memenuhi metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Buat lah tempat belajar senyaman mungkin bagi anak sesuai dengan kemauan mereka. Jadikan lah sekolah sebagai surga bagi tempat belajar mereka jangan lah sekolah di jadikan penjara bagi tempat belajar anak. Sehingga guru maupun peserta didik sama-sama merasa senang dan masing-masing tidak ada yang terbebani karena perbedaan kebutuhan mereka terpenuhi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar